Grebek Pantai Mallenreng: Bukan Cuma Cari Kerang, PKBM Sinjai Siap “Tempur” Lawan Anak Tidak Sekolah
Lintas TV Sulsel_Sinjai Timur – Siapa bilang rapat koordinasi harus selalu digelar di ruang ber-AC dengan suasana kaku? Forum Komunikasi (FK) PKBM se-Kabupaten Sin jai justru memilih cara berbeda. Sekitar 50 pengelola PKBM se-Sinjai berkumpul di Pantai Mallenreng, Selasa (3/2/2026), dalam agenda Rapat Koordinasi dan Rapat Kerja bertema Penguatan Sinergi dan Tata Kelola PKBM.
Pantai yang biasanya jadi lokasi bersantai itu mendadak berubah menjadi “markas strategi” para pendekar pendidikan kesetaraan. Dengan debur ombak sebagai latar, para pengelola PKBM menyatukan langkah demi satu misi besar: memastikan pendidikan nonformal di Sinjai semakin kuat dan berdampak.
Tiga Jurus “Sakti” dari Dinas Pendidikan Mewakili Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sinjai, Rustam Rahman, S.Pd., M.Pd., hadir memberikan arahan strategis. Ia menegaskan bahwa PKBM saat ini tidak cukup hanya menjadi tempat belajar alternatif, tetapi harus memiliki tiga kekuatan utama.
Pertama, analisis risiko, agar PKBM siap menghadapi dinamika regulasi dan tantangan kebijakan. Kedua, peningkatan kualitas lulusan, sehingga warga belajar tidak hanya mengantongi ijazah, tetapi juga memiliki kompetensi nyata. Ketiga, adaptasi digital, yang menjadi keharusan di era 2026 agar PKBM tidak tertinggal dalam arus teknologi.
“PKBM harus lincah, adaptif, dan relevan dengan kebutuhan zaman,” pesannya. Kolaborasi Jadi Harga Mati Korwas Pendidikan Kabupaten Sinjai, Mappaompo, S.Pd., M.Pd., turut menyuntikkan semangat kolaborasi. Ia mengingatkan agar PKBM tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan membangun irama kerja yang solid dengan seluruh mitra pendidikan.
Hal senada disampaikan Ketua FK-PKBM Sinjai, Dra. Hj. Ernawati Madi, M.Si. Menurutnya, kolaborasi bukan sekadar jargon, melainkan fondasi utama untuk memajukan pendidikan nonformal di Bumi Panrita Kitta.
Fokus Utama: Menangani Anak Tidak Sekolah Isu Anak Tidak Sekolah (ATS) menjadi topik paling hangat dalam sesi diskusi. Para peserta sepakat bahwa persoalan ATS bukan masalah sederhana, melainkan tantangan kompleks yang membutuhkan penanganan bersama dan berkelanjutan.
Tidak boleh ada anak Sinjai yang tercecer dari layanan pendidikan,” menjadi komitmen bersama yang mengemuka dalam forum tersebut. Dengan suasana pantai yang menenangkan, diskusi berlangsung cair namun produktif. Berbagai gagasan dan solusi mengalir, memperkuat harapan bahwa pendidikan kesetaraan di Sinjai akan semakin inklusif dan progresif.
Catatan pinggir, Rapat di tepi pantai, pikiran jadi segar, solusi pun mengalir. Semoga hasil Rakor dan Raker ini benar-benar membuat pendidikan kesetaraan di Sinjai makin menyala.
